08 Mei 2018 15:17 wib
  • pendidikan

Keragaman dalam berbagai aspek kehidupan manusia adalah sesuatu yang nyata, sama dengan nyatanya kehidupan manusia itu sendiri. Maka tak mengherankan kalau Alquran berbicara banyak tentang keragaman. Kitab suci ini menegaskan bahwa keragaman memanglah merupakan sifat semula jadi dari masyarakat manusia serta merupakan kehendak Allah swt. (QS. An-Nahl/16: 93). Oleh sebab itu, keragaman bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi tetapi harus dipelajari secara baik dan kemudian dikelola dengan semangat positif. Dalam bahasa Alquran keragaman itu adalah tanda-tanda untuk direnungi dan pahami (ayatan lil-`alamin, QS Ar-Rum/30: 22). Lalu pengelolaan yang positif tersebut diwakili oleh kata saling mengenali (lita`arafu, QS Al-Hujurat/49: 13).

Keragaman itu juga begitu menonjol dalam sejarah umat Islam. Umat ini telah menjadi bagian dari masyarakat majemuk sejak hari pertama eksistensi historisnya. Makkah dan Madinah, sebagai setting awal perkembangan Islam, adalah rumah bagi manusia dari berbagai kabilah, menganut berbagai agama, dan mengembangkan berbagai adat budaya. Konteks keberagaman ini semakin kompleks dan melibatkan lebih banyak variabel lagi ketika Islam menjadi kekuatan besar dan menguasai bidang geografis yang sangat luas, membentang dari Arabia ke Persia, ke Afrika, ke Andalusia, ke Eropa Selatan, ke Turki, ke Asia Barat, ke Eropa Timur, ke India, ke Asia Tenggara.

Maka keragaman yang dihidupi umat Islam kontemporer sesungguhnya adalah sesuatu yang alami belaka, sesuatu yang by default. Dikatakan demikian karena memang keragaman itu sudah dititahkan Tuhan dan dialami sepanjang sejarah. Sejatinya, tidak ada yang baru apalagi aneh dalam hal itu. Dalam kenyataannya, keragaman itu semakin kompleks dan berkembang cepat berkat dukungan teknologi transportasi dan teknologi informasi yang sangat canggih belakangan ini. Oleh karena itu, sekali lagi, yang harus dilakukan terhadap keragaman ini adalah mempelajarinya, memahaminya, dan kemudian menggunakannya sebagai energi positif bagi kebaikan hidup bersama.

Dalam kaitan itulah setiap upaya mengkaji lalu kemudian mempublikasikan hasil kajian tentang keragaman adalah penting. Dalam konteks demikianlah, tampaknya, buku ini harus dilihat dan diberi apresiasi. Menurut hemat saya, pilihan Zakiah Daradjat sebagai tokoh kajian memberi satu dimensi ‘baru’ terhadap diskursus mengenai keragaman. Sejauh ini, kajian mengenai keragaman tampaknya didominasi oleh pendekatan teologis, fikih, sosiologis-antropologis, atau kajian kultural. Sebagai seorang pakar Psikologi Zakiah Daradjat jelas melihat persoalan dengan kaca mata yang berbeda.

Akhirnya, buku ini diharapkan menjadi media penyebarluasan gagasan yang kemudian membantu masyarakat mendapatkan pencerahan dalam berpikir dan kemudian menemukan bimbingan dalam bertindak. Di sisi lain buku ini diharapkan pula menjadi semacam trigger bagi para dosen dan peneliti lain untuk mempublikasikan hasil-hasil kajiannya.

 

Medan, Juli 2016

Prof. Dr. Hasan Asari, MA

Pgs. Rektor UIN SU Medan